Hehehehe
Di postingan kali ini aku ingin menanyakan sesuatu, yang udah bener bener mengganggu hatiku..
Aku kenal sebuah keluarga, orang Kalimantan Selatan sini. Mereka tinggal di desa kecil yang bernama "SUMBER MULYA". Desa kecil yang jauh dari indahnya gedung gedung tinggi yang menjulang di angkasa..
Di keluarga mereka ada seorang bapak, ibu, seorang anak perempuan seusia aku (20 tahun), dan juga anak laki lakinya yang berumur 10 tahun..
Di lihat sejenak, keluarga mereka tak ada kekurangan, ekonominya lebih dari cukup (tapi gak kaya, pokoknya berkecukupan)..
Aku kenal ayah dan ibu itu waktu di tambang batu besi dulu, lama lama aku kenal agak baik ( gak terlalu dekat ), bapak itu bercerita kalau dia punya seorang anak seusiaku yang bekerja di Pelaihari ( jaraknya 7km dari tempat tinggal keluarga itu). Perlu di catat, di Kalimantan, 7 km itu dekat banget, masalahnya rumah juga gak padat seperti di jawa, jadi lalulintas juga sepi ( kalau di bandingin jawa )..
Anak perempuan tersebut bekerja di sebuah CV yang mengelola pertambangan batu bara. ( saluuuuuuuuuut). Kata orang sich anaknya cantik, agak pendiam kalau di rumah, jarang keluar rumah, giat bekerja, pokoknya nilainya 8 dech di mata keluarganya..
Pertama aku juga ikut menilai bagus, kalau menurutku nilai sifatnya 8,65 dech. hehe..
Tapi pandanganku berubah saat aku tau, kalau cewek tersebut tidur di kantor. Wah gak beres nich cewek? Kata kata itu yang pertama terfikirkan olehku..
Banyak hal yang mendukung fikiran burukku ini :
Pertama, kantor yang di maksud bapaknya tak lain dan tak bukan hanya sebuah rumah biasa, di situ juga tinggal beberapa laki laki. Kalau menurutku, ya mending pulang aja..
Kedua, jarak antara kantor dan rumahnya cuman 7 km, kalau di tempuh dengan sepeda motor, paling makan waktu 20menit. Tapi kenapa kok memilih gak pulang, apa lagi dia seorang perempuan. Gimana kalau terjadi apa apa sama dia?..
Ketiga, waktu aku tanya bapaknya, jaraknya dekat kok gak pulang aja? Kata bapaknya “kata bosnya kantornya gak boleh dikosongin, masalahnya dikantor cuman dia ma temennya, bosnya di Banjarmasin”, wah, aturan mana tuch yang gak memperbolehkan karyawan pulang? Bayar lembur juga enggak, kok gak boleh pulang. Kalau aku jadi cewek itu, mending gak usah kerja di situ, bantuin bapaknya di sawah aja, itu lebih baik, dari pada harus tinggal di sebuah rumah bersama laki laki yang bukan muhrimnya..
Keempat, kata bapaknya anaknya itu adalah kesayangan bosnya? Dan dia sering diajak ke Kalimantan Timur hanya untuk melihat lokasi Batu bara? “Wah, udah ancur cewek ini” itu fikiranku pertama dari lubuk hatiku yang paling dalam..
Seorang cewek, mau maunya diajak bosnya keluar provinsi, dan harus menginap sama bosnya. Ini Kalimantan bro, bukan jawa. Dan yang bersama anak perempuan itu bos laki laki tambang batubara. Orang pertambangan itu gak ada beresnya..
Bener bener gak beres..
Aku ingin banget menjelaskan gimana gilanya orang orang pertambangan (seperti aku ini juga), dan bagaiman ancurnya moral dan nilai nilai kehidupan di luar sana. Karena tak bisa dipungkiri, pergaulan bebas udah semakin menjadi jadi. Tapi aku takut, karena bapaknya terlalu bangga dengan anak perempuannya itu. Aku bener bener kasihan kalau harus melihat anak secantik dan sepandai itu harus rusak..
Sudah aku yakinkan hatiku, agar aku gak ikut campur masalah keluarga orang. Tapi aku gak bisa, bener bener gak bisa. Aku selalu kasihan kalau melihat bapak dan ibu itu tersenyum ketika melihatku..
Kata sahabatku “Mungkin udah terlambat Dan, mungkin cewek itu udah rusak”..
Dan aku hanya bisa berkata “iya, mungkin saja. Tapi bagaimana kalau belum? Apa kita gak bersalah di mata TUHAN? Aku takut bro, takut sama TUHAN. Takut TUHAN marah karena kita tidak memberi tahu bapak dan ibunya tentang bagaiman dunia luar yang keras dan berduri ini. Mungkin kita bisa mencegahnya sebelum dia rusak di tangan orang orang tambang yang gila itu.”..
Kasihan orang tuanya, bagaimana kalau cewek itu nanti hamil duluan sebelum nikah, terus gak ada yang bertanggungjawab?
Karena gak ku pungkiri itu banyak terjadi di Kalimantan yang luas ini..
Aku juga bingung, kenapa aku harus repot memikirkan keluarga orang lain?
Tapi hati kecilku tak bisa melupakan masalah keluarga kecil itu..
Apa yang harus aku lakukan wahai sahabat?